You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Desa Campakamulya

Kec. Cimaung, Kab. Bandung, Prov. Jawa Barat

RADIO PERTAMA DI INDONESIA


RADIO PERTAMA DI INDONESIA

campakamulya.desa.id - baraya campakamulya pastinya sudah tidak asing dengan kata reruntuhan - reruntuhan yang ada di Gunung Puntang bukan. Tapi, apakah baraya tahu jika reruntuhan tersebut dulunya merupakan bangunan yang sangat megah?  dan menjadi kebanggaan para menir Belanda kala itu.

Reruntuhan tersebut merupakan bekas dari bangunan radio pertama di Indonesia yaitu Radio Malabar. Menurut informasi yang admin himpun, pembangunan radio malabar ini di gagas oleh Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot, seorang ahli teknik elektro lulusan sebuah universitas di Karlsruhe, Jerman. Pembangunan radio ini bertujuan untuk menghubungkan Belanda dan Hinda Belanda dimana pada saat itu sedang perang dunia I, sehingga tidak memungkinkan adanya ketersediaan kabel.

Pembangunan radio malabar ini di mulai sejak tahu 1916 dan diresmikan pada 05 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock. Untuk memancarkan gelombang radio dibentangkan antena sepanjang 2 kilometer antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun. Ketinggian antena ini rata - rata 350 meter, dan dibentangkan dengan mengarah ke Belanda yang berjarak sekitar 12.000 kilometer dari Gunung Puntang. Untuk mendukung  daya listrik di bangun juga beberapa PLTA dan PLTU diantarnya : PLTA Dago, PLTA Plengan dan PLTA Lamadjan, serta PLTU di Dayeuhkolot. Sebagai pemasok kumparan besar dan beberapa trafo di pilih Willem Smit & Co’s Transformatorenfabriek  sedangkan generator dipasok oleh Smit Slikkerveer

Pada saat akan melakukan peresmian, terjadi badai tropis dan sambaran petir merusak beberapa alat penting termasuk  pemancar sehingga menyebabkan peresmian hampir di undur. Namun, peresmian tetap dilakukan pada 05 Mei 1923 dengan mengirimkan pesan telegraf kepada Ratu Belanda dan Menteri Urusan Koloni, tetapi tidak ada jawaban dari stasiun di Belanda. Baru pada 6 Mei 1923 malam, pemancar dapat berfungsi dengan baik. Pesan pertama yang dirimkan dari Belanda adalah dari Kantor Berita Aneta.

Untuk mengenang peristiwa telekomunikasi tersebut di bangun sebuah patung dimana terdapat 2 orang lelaki tanpa busana yang sedang mengapit seperempat bola dunia. Pada sisi barat daya dan timur laut bola dunia tersebut tertulis untaian kata-kata berikut:

Eenzam in trotsche natuur ligt zijn schepping op Malabar’s steilte: ‘t Woord harer machtige stem klink door tot de einden der aarde.

‘t Scheppend genie van De Groot verbonds trots d’oorlogsbezwaren, Nederland en Indie, zo ver uiteen, door den trillenden aether.

“Secara garis besar puisi tersebut menggambarkan keberadaan ciptaan dalam kesunyian kemegahan alam Malabar yang terjal, kekuatan suara rangkaian kata-kata berbunyi sampai ujung dunia. De Groot menciptakan sarana menghubungkan Nederland nun jauh di sana dengan Hindia belanda melalui gelombang udara,” tulis Sudarsono Katam dalam bukunya Tjitaroemplein (2014).  Sekitar pada tahun 1950 monumen tersebut dihancurkan dan di bangun sebuah Mesjid.

Pada saat perang duina II berkecamuk radio malabar menjadi perebutan antara belanda dan Jepang yang pada akhirnya membuat radio ini dihancurkan. Dari beberapa artikel yang admin himpun ,penghancuran radi malabar ini dilakukan oleh pribumi dan dikait - kaitkan dengan peristiwa Bandung Lautan Api.

Sumber : idntimes.com, tirto.id, wikipedia.id.

sumber foto : google.com

Bagikan artikel ini:
Komentar